Makna Syahadat محمد رسول الله
Berdasarkan dalil-dalil yang ada, makna dari syahadat محمد رسول الله adalah:
1. Membenarkan apa yang disampaikan Rasulullah:
“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm, 53: 2–4)
2. Mentaati apa yang diperintahkan.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An- Nisa’ 4: 59)
3. Menjauhi dan meninggalkan apa yang dilarang.
“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr, 59: 7)
4. Tidak mengerjakan ibadah kecuali sesuai dengan yang dicontohkannya.
Allah SWT berfirman:
“…Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi, 18: 110)
Hadits Nabi saw:
“Abu Hurairah ra menyatakan bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda: Apa saja yang aku larang bagi kalian maka jauhilah dan apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah sekuatmu.” (HR.Muslim, Shahih Muslim, Kitab Fadhail No.4355)
5. Menghidupkan dan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah saw..
Allah SWT berfirman:
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran, 3: 31)
Syarat Sahnya محمد رسول الله
1. Mengakui dan meyakini bahwa Muhammad saw adalah hamba Allah dan rasul-Nya.
Artinya, Kita meyakini bahwa sebagai hamba Allah Muhammad tetap memiliki kewajiban untuk beribadah kepada Rabb-Nya seperti yang telah diwajibkan kepada hamba Allah lainnya. Disamping itu kita meyakini bahwa Muhammad adalah manusia biasa yang memilki sifat-sifat sebagaimana manusia umumnya, akan tetapi beliau memiliki kewajiban untuk menyampaikan risalah (ajaran) Allah sebagai cahaya dan penyelamat bagi ummat manusia.
Allah SWT berfirman:
”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat, 51: 56)
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahf, 18: 110)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغۡ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۖ وَإِن لَّمۡ تَفۡعَلۡ فَمَا بَلَّغۡتَ رِسَالَتَهُۥۚ وَٱللَّهُ يَعۡصِمُكَ مِنَ ٱلنَّاسِۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٦٧
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah, 5: 67)
2. Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan. Ini sangat penting untuk menentukan apakah seseorang itu mau mengakui kerasulan Muhammad atau tidak, karena ini menyangkut masalah pengakuan.
Rasulullah bersabda dalam Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim dari Ubadah bin Shamit:
قَالَ رَسُولُ اللهِ : مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ
“Rasulullah bersabda: Siapa yang mengucapkan: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah satu-satu-Nya, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan (bersaksi) bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, dan (bersaksi) bahwa Isa itu adalah hamba Allah dan putra hambanya (yang perempuan), dan kalimat Allah (كُنْ ; jadilah) yang diberikan kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan (bersaksi) bahwa surga itu benar, neraka itu benar, Allah akan memasukkan ke dalam surga dari pintu mana saja dari delapan pintu yang ia kehendaki.” (HR. Muslim; Shahih Muslim)
3. Mengikuti dan mentaatinya dengan cara mengamalkan semua ajaran yang dibawa kepada ummatnya.
Allah SWT berfirman:
قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١ قُلۡ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَۖ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٣٢
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali-Imran 3: 31–32)
Allah SWT berfirman:
… وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧
“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr, 59: 7)
Sabda Rasulullah saw:
عَن عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَن أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ قَالَ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Dari ‘Atha’ bin Yasar, dari Abu Hurairah ; sesungguhnya Rasulullah bersabda: Semua ummatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau: para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, siapakah orangnya yang tidak mau itu? Rasulullah menjawab: Barangsiapa yang mentaatiku maka ia akan masuk surga dan barangsiapa yang tidak ta’at kepadaku itulah orang yang tidak mau.” (HR. Bukhari, Shahih Al-Bukhari)
Membenarkan semua berita yang dikabarkan oleh beliau tentang hal-hal yang ghaib, baik yang telah lalu, sekarang, atau peristiwa-peristiwa yang akan datang. Apapun yang disampaikan atau diucapkan oleh Rasulullah tidak pernah terlepas dari kontrol dan kendali wahyu.
Allah SWT berfirman:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ٣ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ٤
“3) Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. 4) Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm, 53: 3–4)
Mencintainya melebihi dari cinta kepada anak, orang tua, harta dan manusia lainnya.
Rasulullah saw bersabda:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
“Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian sebelum aku lebih dicintai dari pada anaknya, orang tuanya dan semua manusia.” (HR. Bukhari Muslim, Shahih ibnu Majah)
Mendahulukan perkataannya dari segala perkataan manusia dari tingkat manapun.
Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَيِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ١
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesung-guhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat, 49: 1)