Banyak keutamaan yang didapat dari memahami 3 prinsip pokok Aqidah Islam, beberapa keutamaan itu antara lain: Dapat menjawab pertanyaan di alam kubur dan juga dapat menyelamatkan diri dari fitnah-fitnah kubur lainnya.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan Hadits dari sahabat Barra’ bin Azib, bahwa Nabi saw bersabda:
الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله فَذَالِكَ قَوْلُهُ: (يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ )
“Seorang Muslim jika telah dimasukkan ke dalam kuburnya kemudian bila ia ditanya dalam kubur kemudian ia menjawab dengan bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka hal tersebut merupakan makna dari Firman Allah, yang artinya ‘Allah meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat’” (QS.Ibrahim, 14: 27)
Dalam lafaz yang lain berbunyi,
نَزَلَتْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ فَيُقَالُ لَهُ, مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُوْلُ, الله رَبِّي وَمُحَمَّدٌ نَبِيِّيْ. فَذَلِكَ قَوْلُ الله تَعَالَى, (يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ )
“Siksa kubur diturunkan kemudian ditanyakkan kepada mayat siapa Tuhanmu, Ia menjawab: “Allah adalah Tuhanku dan Muhammad adalah Nabiku, itulah makna Firman Allah I, yang artinya ‘Allah meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat’” (QS.Ibrahim, 14: 27)
Dari Anas ra, Nabi saw bersabda:
إِنَّ الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِىْ قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُوْلاَنِ مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِي هَذَا الرَّجُلِ لِمُحَمَّدٍ r فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُوْلُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ الله وَرَسُوْلُهُ. فَيُقَالُ لَهُ: انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ الله بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ, فَيَرَاهُمَا جَمِيْعًا. وَأَمَّا الْمُنَافِقُ وَالْكَافِرُ فَيُقَالُ لَهُ مَاكُنْتَ تَقُوْلُ فِيْ هَذَا الرَّجُلِ فَيَقُوْلُ لاَ أَدْرِي كُنْتُ أَقُوْلُ مَا يَقُوْلُ النَّاسُ فَيُقَالُ لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ. وَيُضْرَبُ بِمَطاَرِقَ مِنْ حَدِيْدٍ ضَرْبَةً فَيَصِيْحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيْهِ غَيْرَ الثَّقَلَيْنِ
“Sesungguhnya seorang manusia jika sudah dimakamkan dalam kubur, sementara orang-orang yang mengantarnya telah meninggalkan ia dari kuburnya sungguh ia mendengar suara gesekan sandal mereka maka datanglah dua malaikat kepadanya lalu mendudukkannya, lantas malaikat bertanya kepadanya apa yang engkau ketahui dan katakan terhadap laki-laki ini, (Muhammad r)? Bagi orang yang beriman dan mengetahui, dia akan menjawab, Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya kemudian kedua malaikat itu berkata, lihatlah ke arah tempatmu yang berada di neraka, sekarang Allah Itelah menggantinya dengan tempat di surga ia pun melihat kedua tempatnya. Adapun orang-orang yang tidak mengetahui tentang Muhammad (orang kafir, munafik, dzalim) dikatakan kepadanya apa yang engkau ketahui dan katakan terhadap laki-laki ini (Muhammad)? Ia menjawab, “Aduh, aku tidak mengetahuinya dengan benar!” Aku hanya akan mengatakan apa yang dikatakan kebanyakan manusia (pada umumnya). Lantas dikatakan kepadanya, “Kamu tidak mengetahuinya dan tidak membacanya (tidak ada keinginan mempelajari untuk mengetahuinya)” Lantas ia dipukul dengan palu sekali pukulan. Ia pun menjerit dengan jeritan sangat keras yang dapat didengar oleh makhluk yang berada di sampingnya selain jin dan manusia.”(HR. Bukhari dan Muslim. Shahih Bukhari Kitab Janaiz Bab. Maja’a fi Azabi al-Qabri, Shahih Muslim Kitab al-Jannah wa Shifatun Naimiha wa Ahliha)