Makna Tauhid
Secara bahasa tauhid berasal dari kata: وَحَّدَ > يُوَحِّدُ > تَوْحِيْدًا yang berarti menjadikan satu atau mengesakan.
Tauhid secara istilah berarti, mengesakan Allah I sebagai Tuhan, yang berhak disembah (diibadahi) dengan segala nama, sifat, dan perbuatan-Nya.
Catatan: Dalam kenyataannya, Aqidah dan Tauhid adalah sama, keduanya menetapkan kebenaran tentang keesaan Allah dengan dalil-dalil. Secara tematis aqidah lebih luas dari tauhid.
Macam-Macam Tauhid
- Tauhid Rububiyyah
Tauhid Rububiyyah berarti percaya bahwa hanya Allah Iadalah satu-satunya pencipta, pemilik, pengatur alam raya yang menghidupkan dan mematikan serta mengendalikan alam dengan hukum-hukum-Nya. Allah SWT berfirman:
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Fatihah, 1: 2)
Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf, 7: 54)
Allah SWT berfirman:
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah, 2: 29)
Allah SWT berfirman:
“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara, 26: 80)
Allah SWT berfirman:
”Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariat, 51: 58)
2. Tauhid Uluhiyyah atau Ubudiyyah
Tauhid Uluhiyyah atau Ubudiyyah yaitu mengesakan Allah Y dalam beribadah hanya kepada-Nya, seperti shalat, puasa, zakat, haji, nadzar, memotong sembelihan, rasa takut, rasa harap dan cinta.
Allah SWT berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya, 21: 25)
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.Al-Isra, 17: 36)
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat, 51: 56)
Allah SWT berfirman:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabildan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa, 4: 36)
Allah SWT berfirman:
”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS.Al-Bayyinah, 98: 5)
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun, 109: 1-6)
3. Tauhid al-Asma wash-Shifat
Tauhid al-Asma’ wash-Shifat yakni pengakuan dan kesaksian yang tegas atas semua nama dan sifat Allah SWT yang sempurna yang termaktub dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw tanpa sedikitpun menafikan, menyimpangkan maknanya, menyerupakan dan menentukan bentuk atau hakikatnya.
Allah SWT berfirman:
“… Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. As-Syura, 42: 11)