Ikhlas dalam beramal

Allah SWT berfurman:

اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ ٤٠ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَّعْلُوْمٌۙ ٤١ فَوَاكِهُ ۚوَهُمْ مُّكْرَمُوْنَۙ ٤٢ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِۙ ٤٣

“Kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas, mereka itu memperoleh rezeki yang sudah ditentukan, (yaitu) buah-buahan, dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.” (QS. As-Saffat: 40-43)

Penjelasan dan kesimpulan:
>> Ikhlas dalam bahasa berarti murni, air murni dalam bahasa arab disebut (الماء الخالص)dan ketika air dicampur teh atau kopi maka sebutannya langsung berubah (القهوة / الشي) maka makna ikhlas adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan sesuatu apapun.
>> Pengertian ikhlas secara syariat adalah membebaskan hati dari niat yang tercampur kepentingan duniawi, seperti pamrih terhadap makhluk atau keinginan untuk dipuji. Kemurnian ikhlas tergambar dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 66:

وَاِنَّ لَكُمْ فِى الْاَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۚ نُسْقِيْكُمْ مِّمَّا فِيْ بُطُوْنِهٖ مِنْۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَاۤىِٕغًا لِّلشّٰرِبِيْنَ ٦٦

“Sesungguhnya pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberi kamu minum dari sebagian apa yang ada dalam perutnya, dari antara kotoran dan darah (berupa) susu murni yang mudah ditelan oleh orang-orang yang meminumnya.”
Ikhlas juga termasuk salah satu syarat diterimanya ibadah. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ ٥

Dan mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. “ (QS. Al-Bayyinah: 5 )
>> Menjaga konsistensi ikhlas dalam beramal seperti yang disebutkan Allah di dalam Al-Quran,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.” (QS. Al-Baqarah: 264 )

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *