Hal-hal yang merusak dan membatalkan nilai-nilai dua kalimat syahadat antara lain:
1. Bertawakkal dan bersandar kepada selain Allah.
Allah SWT berfirman:
”…Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah, 5: 23)
2. Beribadah dan beramal untuk selain Allah atau tidak sesuai dengan syariatnya.
Allah SWT berfirman:
Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am, 6: 162–163)
Hadits Nabi saw:
“Amr bin Murrah berkata: ‘Saya mendengar Abu Wa-il berkata; Abu Musa Al-Asy’ari menuturkan kepada kami: ‘Ada seorang desa pedalaman datang kepada Rasulullah saw, ia bertanya: Ada orang berperang agar dikenang (sebagai pahlawan), ada yang berperang untuk mendapatkan harta rampasan, dan ada yang berperang demi kedudukan. Manakah yang berperang di jalan Allah?, Rasulullah berkata: ‘Siapa yang berperang demi tingginya kalimat (agama) Allah, dialah yang berperang di jalan Allah SWT.” (HR. Ibnu Majah; Sunan Ibnu Majah, No. 2783, Muslim; Ringkasan Shahih Muslim, No. 1088)
3. Menganggap ada kekurangan pada diri Rasul dalam memberi contoh tauladan dan bimbingan dalam urusan aqidah dan syariah serta menganggap Nabi Muhammad saw bukan Rasul terakhir.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab, 33: 21)
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali Imran, 3: 31–32)
Allah SWT berfirman:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab, 33: 40)
4. Memberikan hak memerintah dan melarang (membuat undang-undang) kepada selain Allah dan bertentangan dengan hukum yang ditetapkan oleh Allah.
Allah SWT berfirman:
“…Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. al-A’raf, 7: 54)
Allah SWT berfirman:
“…Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.” (QS. Al-An’am, 6: 57)
Allah SWT berfirman:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am, 6: 116)
5. Taat kepada selain Allah
Allah SWT berfirman:
“Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An-Nisa, 4: 80)
Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa 4: 59)
Nabi saw bersabda:
“Dari Ibrahim, dari Abdullah, dari Nabi saw, beliau bersabda: ‘Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam hal bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad, Musnad Imam Ahmad, 1; 82)
6. Tidak mengakui kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih baik keseluruhan ataupun sebagiannya.
Allah SWT berfirman:
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 146)
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS. An-Nisa, 4: 150–151)
Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”(QS. Al-Baqarah, 2: 208)
7. Menjadikan, memilih atau mengangkat orang non-Muslim, munafik dan orang tidak bertauhid sebagai pemimpin.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya penolong (pemimpin) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah, 5: 55–57)
Allah SWT berfirman:
“Janganlah orang-orang mukmin memilih orang-orang kafir menjadi wali atau pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imran, 3: 28)
Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali (pemimpinmu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. At-Taubah, 9: 23)
Allah SWT berfirman:
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil (memilih) orang-orang kafir (non-Muslim) menjadi pemimpin atau penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS. An-Nisa, 4: 138–139)
8. Kufur terhadap nikmat yang Allah berikan baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan,
Allah SWT berfirman:
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim, 14: 34)
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Ath-Taghabun, 64: 11)
Allah SWT berfirman:
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain), Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).” (QS. An-Nahl, 16: 53–55)
9. Menolak atau membenci sebagian dari ajaran Islam atau secara keseluruhan,
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS. An-Nisa’, 4: 150–151)
Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.” (QS.Muhammad, 47: 8–9)
10. Menghina dan mempermainkan ajaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah atau menghina dan mempermainkan orang-orang yang mengamalkan dan menegakkan apa yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah As-Shahihah,
Allah SWT berfirman:
“Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah, 9: 64–66)
Nabi saw bersabda:
“Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: Sungguh benar-benar terjadi ada seorang hamba yang mengatakan suatu perkataan yang diridhai Allah tanpa disadari gara-gara ucapannya itu Allah angkat derajatnya. Dan sungguh benar-benar terjadi ada seorang hamba yang mengatakan suatu perkataan yang dibenci Allah tanpa disadari gara-gara ucapannya itu ia terperosok kedalam neraka jahannam.” (HR Bukhari, Shahih Bukhari No, 6113)
11. Menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan,
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. An-Nahl, 16: 105)
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. An-Nahl, 16: 116–117)
12. Menetapkan hukum yang bertentangan dengan Islam dan berhukum kepada hukum selain Allah.
Allah SWT berfirman:
“Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS, Al-Maidah, 5: 47)
Orang yang tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah, ada tiga macam:
a. Karena benci dan ingkarnya kepada hukum Allah, orang yang semacam ini kafir (QS. Al Maa’idah: 44).
b. Karena menurut hawa nafsu dan merugikan orang lain dinamakan zalim (QS. Al Maa’idah: 45).
c. Karena fasik sebagaimana ditegaskan Allah (QS.Al-Maaidah: 45). (Al-Qur’an dan Terjemahannya, Depag RI)
Allah SWT berfirman:
“…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS, Al-Maidah, 5: 44)
Allah SWT berfirman:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’, 4: 60–61)
T
ermasuk Thaghut adalah:
a. Orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu.
b. Berhala-berhala.(Al-Qur’an dan Terjemahannya, Depag RI)
13. Berpaling dari ajaran Islam, tidak mau belajar dan tidak mau mengamalkan Islam.
Allah SWT berfirman:
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajdah, 32: 22)
14. Mengkafirkan orang yang berpegang teguh dengan ajaran Islam dan tidak mengkafirkan orang yang nyata-nyata kafir (non-Muslim).
Allah SWT berfirman:
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS.at-Taubah, 9: 29)
15. Syirik dengan segala bentuk dan macam-macamnya.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’, 4: 116)
Allah SWT berfirman:
“…Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia…” (QS. Al-Baqarah, 2: 102)
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Yahudi berkata: ”Lihatlah Muhammad yang mencampur-baurkan antara haq dengan bathil, yaitu menerangkan Sulaiman (Nabi) digolongkan pada kelompok nabi-nabi, padahal ia seorang ahli sihir yang mengendarai angin.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (QS. Al-Baqarah: 102) yang menegaskan bahwa kaum Yahudi lebih mempercayai syaitan daripada iman kepada Allah. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Syahr bin Hausyab.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Yahudi bertanya kepada Nabi saw beberapa kali tentang beberapa hal dalam Taurat. Semua pertanyaan mengenai isi Taurat, dijawab oleh Allah dengan menurunkan ayat. Ketika itu mereka menganggap bahwa ayat tersebut dirasakan sebagai bantahan terhadap mereka. Mereka berkata dengan sesamanya: “Orang ini lebih mengetahui daripada kita tentang apa yang diturunkan kepada kita.” Di antara masalah yang ditanyakan kepada Nabi ialah tentang sihir. Dan mereka berbantah-bantahanlah dengan Rasulullah tentang hal itu. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al-Baqarah: 102) berkenaan dengan peristiwa tersebut. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abil-’Aliah.) (Al-Qur’an dan Terjemahannya, Depag RI)